IDENTIFIKASI SEMPADAN SUNGAI WAI RUHU TERDAMPAK GENANGAN, BERDASAR ANALISA DEBIT BANJIR RENCANA (Q) METODE RASIONAL MODIFIKASI KALA ULANG 2, 5, 10, 50 TAHUN

Steanly Reynold. R. Pattiselanno

Abstract


Kebutuhan lahan untuk tempat tinggal menjadikan kecenderungan tepi kota yang lahannya berada di lereng-lereng bukit dikonversi untuk menjadi lahan pemukiman.  Akibatnya area hijau menjadi berkurang yang berimbas pada kehilangan area tangkapan air pada DAS yang menjadikan ancaman kekurangan sumber air kedepan, serta ancaman banjir yang bisa terjadi sewaktu-waktu sebagai efek beban pada lereng yang semakin bertambah.

DAS Wai Ruhu termasuk salah satu kawasan yang terdegradasi akibat konversi lahan tangkapan menjadi pemukiman warga. Penataan ruang yang cenderung mengikuti pendekatan kebutuhan tanpa memperhatikan aspek konservasi tanah dan air di sebuah DAS, secara signifikan akan mengakibatkan kehilangan banyak air yang berfungsi untuk resapan alami, penurunan kualitas sungai dan hilangnya kehidupan ekosistem air. Untuk menganalisa masalah dampak limpasan pada DAS Wai Ruhu maka digunakanlah sebuah kajian metode rasional modifikasi kala ulang durasi waktu 2, 5, 10 dan 50 tahun dengan GIS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit kumulatif banjir rencana dengan nilai terendah terjadi pada anak sungai pada sub DAS ke-7, berlaku untuk periode ulang 2 tahun = 0,352 m3/det, periode 5 tahun = 0,502 m3/det, periode 10 tahun = 0,579 m3/det dan periode 50 tahun = 0,716 m3/det.  Sedangkan debit kumulatif banjir rencana dengan nilai tertinggi terjadi pada anak sungai pada sub DAS ke-17, dan berlaku untuk periode ulang 2 ; 5 ; 10 dan 50 tahun yaitu masing-masing sebesar 21,057 ; 29,937 ; 34,590 ; 42,730 m3/det. Limpasan pada masing-masing anak sungai di DAS Wai Ruhu dengan tinggi minimum (tidak ada limpasan), terjadi di masing-masing anak sungai pada sub DAS ke-2, 4, 5, 7, 10, 11, 13, 15 dan ke-16 untuk periode ulang 2 tahun karena merupakan sungai pensuplai debit banjir awal ke anak sungai lainnya, sedangkan tinggi maksimum terjadi pada anak sungai di sub DAS ke-6 yaitu sebesar 4,8009 m dari muka air sungai normal.  Lebar minimum limpasan, terjadi pada sub DAS yang sama dengan tinggi minimum, sedangkan lebar maksimum terjadi pada anak sungai di sub DAS ke-12 yaitu selebar 60,2991 m dari tepi sungai.

Keywords


sungai Wai Ruhu; limpasan; banjir rencana; rasional modifikasi

References


Asdak, C. 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2013. Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon.

Badan Informasi Geospasial. 2008.

Diah Ayu Kusumadewi, Ludfi Djakfar, Moh. Bisri. 2012. Arahan spasial teknologi drainase untuk mereduksi genangan di Sub Daerah Aliran Sungai Watu bagian hilir. Jurnal Teknik Pengairan, Volume 3, Nomor 2, Desember 2012, (258 – 276)

http://ambonkota.bps.go.id/tabel-23-penduduk.html

http://www.radarambon.co/read-20120803233042-8-sungai-di-ambon-kritis-banjir-bisa-terulang--berita_utama

Nugroho, H. 2012. Aplikasi Hidrologi. Jogja Mediautama. Malang.

Prahasta, E. 2004. Sistem Informasi Geografis: Tutorial Arc View. Penerbit Informatika. Bandung.

Ronaldo Toar Palar, L. Kawet, E.M. Wuisan, H. Tangkudung. 2013. Studi Perbandingan Antara Hidrograf SCS (Soil Conservation Service) dan Metode Rasional pada DAS Tikala. Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.3, Februari 2013 (171-176)

Siaran Pers Nomor: S.596/PIK-1/2008, 2008: www.dephut.go.id_

Sitanala, Arsyad. 2012. Konservasi Tanah dan Air, Edisi Kedua. IPB Press. Bogor.




DOI: https://doi.org/10.31959/js.v8i2.191

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Creative Commons License
This Journal Simetrik is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.